Posts

“I might not be the happiest person in the world, but...”

"You already have someone you love so much deep in your heart. I know, but still, I can’t help but tell you how I feel you for you..." - MFS Damn, this internship is really killing me... Selamat datang kembali ke pojok gerutu gue, tempat yang udah (berdebu) lama gue tinggal berkat kehidupan baru yang gue jalani selepas meninggalkan Jakarta untuk setahun kedepan ( wait , udah lewat 5 bulan). Kali ini gue cuma mau cerita soal apa aja yang gue lewati selama 5 bulan magang dan hidup sendiri di luar Jakarta. Albeit it was a hard choice to leave my family behind and live with my own power alone in another place, I decided to, because of some aspects. Alasan utama gue mengambil kesempatan untuk magang di Polytron Kudus selama satu tahun adalah demi bisa lunasin utang yang somehow menumpuk akibat kecerobohan gue sendiri. Yeah, I had borrowed too much money and took too much loans for my hobby, and it grew toxic for me. I mean, dengan gaji yang ditawarkan dari magang ini gue b...

Unforgettable

“With worry breaking down my legs and making me ever weak, but still, the only thing we can do is to keep living on. Even as the moon and sun fail to rise upon us again.” – Reol -sips on a cup of tea- Oh, hey there. Long time no see. Gue sudah lama sekali tidak menulis, sedang berada dalam masa jenuh gara-gara perkuliahan dan kehidupan sehari-hari. Tapi gue mencoba untuk menulis apa saja yang udah gue lewati selama hampir setahun ga nulis apa-apa. Jujur, gue kangen bercerita kepada kalian pembaca setia yang gue banggakan, hehe. First of all, I’m sorry if this time a lil’ bit weird, I’m still trying my best to get back my enthusiasm for writing. Here it goes... Gue adalah salah satu dari sekian banyak manusia di Indonesia yang menyukai budaya Jepang. Of course, you all know the word. Segala sesuatu yang berhubungan sama kultur dan kebudayaan Jepang, kami semua pasti disebut sebagai “ weeaboo ”. Nama ini udah melekat ke kami, udah seperti belahan jiwa (ini mungkin karena kebanyaka...

One-Sided Equilibrium

“When the hands of the clock hastily try to arrive at 12 o’clock, I’ll leave my heart and leave, so please find it in our future.” – fromis_9 Berhasil bertahan dari kerasnya perkuliahan (pastinya karena males gue sendiri), akhirnya gue kembali ke sini. Sebelumnya gue sama sekali ga kepikiran apa-apa untuk nulis lagi, karena 1 semester ini buat gue (awalnya) ga gitu asik buat diceritain. Berkat salah seorang kawan (bisa gue anggep saudara sih, walaupun one-sided , seperti judul cerita ini), we cracked through my inner thoughts, he convinced me about what things I could write here, and here I am now. Hidup gue setelah putus dari mantan yang dulu gue banggakan dan doakan tiap malam jadi fluktuatif. Perjuangan untuk bangkit dari keterpurukan yang membuat pertemanan gue dengan beberapa orang pecah saat itu jadi salah satu pengalaman paling berkesan buat gue selama gue hidup. Untungnya sih, gue bisa baikan sama mereka, tapi... Wait. Let me continue this part later. Beberapa waktu set...

Ephemeral -verse 2-

“Big boys don’t fight. They shoot low and aim high. They e at up but stay thin. They stand out, then fit in.”  –  ONE OK ROCK Gue sebenernya bukan seseorang yang bisa benci sama orang dengan gampang. Kata temen gue malah gue itu terlalu baik sama orang, jadi naif dan gampang buat di-“bego”-in sama orang lain. Mungkin itu akhirnya kenapa gue merasa nyesel tiap kali abis bantuin orang. In this world, there are some truths that are better left untold. Biasanya gue selalu bilang ke orang tentang apa yang gue rasakan, tapi timbal balik yang gue terima adalah kalo ga dikacangin, diceramahin, atau (kalo lawan bicara gue merasa dia pernah merasakan yang lebih parah dari yang gue rasakan) di-iya-in aja. Sama orang tua juga begitu. Kalo anaknya minta sesuatu, misal mau ke dokter gara sakit apa, pasti ada aja alesannya. “Kamu sih makan ga teratur, kurang istirahat.” Padahal mah ini nutupin kalimat “Ga punya duit.” Menjalani bulan pertama di tahun baru, gue jadi banyak baca horo...

Ephemeral -verse 1-

“Preferably, I’d like to embrace this whole new time, to become braver and stronger. Enough to face these lingering feelings for you and let go of them sincerely.” Selamat tahun baru, buat kalian yang udah bertahan selama 2018 dengan berbagai macam kejadian yang kalian alami. Let’s take a moment to be grateful because we still survive to this moment. Semester 3. Semester dengan penuh kepahitan, entah dari segi perkuliahan, percintaan, pertemanan, keuangan, dan harga diri. Gue menyicil tulisan ini dari awal mulai semester 3, jadi ini bakalan jadi panjang banget. Believe me, you won’t like it if I tell the whole timeline here. Jadi gue berusaha untuk membuat tulisan ini bearable to read (gue sekalian udah riset nanyain temen-temen gue yang baca blog ini, kira-kira enaknya panjang atau pendek, so here it is, enjoy!). Gue akan memulai semuanya dari liburan peralihan semester 2 ke semester 3. As you my dearest readers know, gue mendapatkan “pacar” dengan cara dan waktu ya...

"In the end, I realized..."

So here we are, towards our own "path". The "bond" that we brought so high together, and dropped so down together, lingering through my days as I drown myself in misery for being delusional over this "Utopia". 3 bulan menulis bab ke-19 dari buku kehidupan, gue kembali merasakan mental breakdown.  Biasanya gue "melarikan diri" dengan mengalihkan perhatian pada hal-hal yang biasa gue lakukan. Yes, read novels or play games.  Yah, bukan mereda, makin jadi. Gue bahkan gapunya niat buat ngapa-ngapain, bahkan untuk ngelanjutin tugas kuliah pun serasa begitu berat. Kenapa? Selama gue hidup, gue berharap punya pacar dan punya temen lebih lama dari kebahagiaan murni yang gue dapatkan seumur hidup. Ya,  jomblo banget emang kedengerannya,  but trust me, both really cost me almost 3/4 my life.  Pertengahan tahun, kehidupan gue emang mulai membaik. Masih bisa berantem sama beberapa orang yang bisa gue sebut sebagai "teman", diem-dieman sesa...

Last Call

Bukan. Ini bukan acara panggilan terakhir yang biasa dilakuin toko-toko buat ngosongin gudang di akhir tahun. Bukan Last Call Clearance Sale. 1 bulan. Or should I say, 30 days.  Semua yang terjadi selama 30 hari spesifik, akan gue bagikan hari ini. Spoiler alert, banyak yang bakal terdengar alay, one-sided, dan merasa kalo gue terlalu melebih-lebihkan. Sangat disarankan untuk menutup mata ketika membaca postingan ini, karena kalo engga, kalian bisa liat postingannya (apaan sih gajelas). Hmm.. Maybe not 30, but more, let's just see. 28 Juli 2018 Hari terakhir untuk ospek gelombang pertama. Niat gue dateng nemenin temen main yang lagi jaga expo, tadinya . Disini lah kesengsaraan gue dimulai. Kenal sama cewe ini pas salah satu temen gue nanya ruang dosen waktu lagi jaga untuk pertemuan orang tua di kampus. Dari awal gue udah punya firasat gaenak, karena mau kenalan aja susah banget. Even she won't tell her name.   Even now, whenever her name comes up to my mind, it still...

"Don't try to steal the Spotlight!"

Euphoria causes delusion. Delusion causes panic. Panic causes symptoms unknown even to yourself. Gue bener-bener "ditendang" dengan statement saat gue dapet evaluasi diri di hari terakhir gue membimbing mahasiswa baru ke lingkungan Binus. Man, stress could never leave my side all these days. 1 minggu yang cukup melelahkan, 1 minggu yang baik, 1 minggu yang merupakan salah satu memori yang akan terus melekat sampai akhir hayat gue. Ya, First Year Program . "Menggembalakan domba", I should say. Kenapa gue bilang gitu? Sebatas pikiran kecil gue mengatakan kalo membimbing anak baru layaknya gembala dengan domba-domba. Menuntun mereka ke jalan yang baik, yang bisa mereka tempuh untuk memperoleh hasil terbaik untuk mereka sendiri. Gue mah terima capek sama rasa bersyukur karena punya respect dari mereka ya udah seneng. Tapi apa yang buat gue merasa "ditendang"? 1 minggu kemaren dipenuhi oleh diri gue yang bukan diri gue. ( Wait ... Maksudnya gi...